...SELAMAT DATANG...

ptk

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Mempelajari matematika bukan hanya untuk mengetahui dan memahami apa yang terkandung dalam matematika itu sendiri. Matematika diajarkan karena dapat menumbuhkembangkan kemampuan bernalar yaitu berfikir sistematis, logis, dan kritis dalam memecahkan masalah. Disamping itu agar siswa terbentuk kepribadiannya menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika sebagai salah satu bagian dari ilmu pengetahuan, merupakan mata pelajaran yang diajarkan pada semua tingkat pendidikan rendah sampai kejenjang pendidikan tinggi. Dari masing-masing jenjang tersebut, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika sehingga wajar jika matematika tidak banyak disenangi orang, bahkan ada yang merasa takut.
Ketakutan yang muncul dari diri siswa tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri, tetapi juga didukung oleh ketidakmampuan guru menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik terhadap matematika. Belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa, apalagi untuk belajar matematika sangat diperlukan aktivitas fisik maupun mental siswa karena siswa yang belajar harus aktif sendiri, tanpa ada aktivitas maka proses belajar tidak mungkin belangsung dengan baik.
Menurut Hilgrad dan Brower dalam Ngalim (2007: 84) mengungkapkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku, perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan atau dasar respon pembawaan,kematangan, atau kedaan-keadaan sesaat seseorang. Oleh karena itu, respon siswa merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan keberhasilan belajar matematika.
Berkaitan dengan hal tersebut, setelah peneliti melakukan observasi proses pembelajaran matematika yang dilaksanakan di SMP N 1 Sawit, ditemukan permasalahan antara lain: 1) Guru yang lebih aktif sehingga aktivitas siswa terbatas pada mendengarkan, mencatat, menjawab pertanyaan. 2) Siswa bekerja atas permintaan guru, menurut cara yang ditentukan guru, begitu juga berfikir menurut yang digariskan oleh guru. Sehingga proses pembelajaran tidak mendorong siswa untuk befikir dan beraktivitas, bahkan cenderung membosankan membuat siswa pasif dan mempertebal rasa takut siswa. 3) Guru jarang mendekati dan membimbing siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Hal inilah menjadi salah satu penyebab rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika yang mengakibatkan prestasi belajar juga tidak maksimal, dapat dilihat dari nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) di SMP N I Sawit. Pada Tahun 2006 rata-rata nilai UAN matematika adalah 6.99, pada tahun 2008 rata-rata nilai UAN matematika adalah 6,97. Untuk mengantisipasi masalah tersebut maka perlu dicarikan formula pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Oleh karena itu, guru harus terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi agar siswa lebih tertarik dalam belajar matematika.
Pembelajaran matematika hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas berupa pekerjaan yang harus diselesaiakan atau masalah-masalah yang harus dipecahkan atas dasar kemampuan siswa sendiri, maka mereka hendaknya memberi tugas individu disamping tugas kelompok. Hal ini ditujukan untuk membimbing siswa kearah berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri, penuh inisiatif, kreatif, dan berfikir kritis serta bertanggung jawab. Karena aktivitas merupakan suatu hal yang sangat penting untuk meningkatakan prestasi belajar. Dalam proses belajar mengajar tanpa adanya keaktifan siswa, belajar tidak akan mencapai hasil yang maksimal.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perlu diadakan penelitian tentang cara meningkatkan aktivitas belajar matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching. Untuk itu penulis melakukan penelitian  tentang: “Upaya Peningkatan Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Reciprocal Teaching pada Subpokok Bahasan Keliling Dan Luas Segitiga Di Kelas VII SMP N 1 Sawit Tahun Ajaran 2010/ 2011”.

B.       Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan rumusan permasalahan yang diangkat penulis adalah: Adakah peningkatan aktivitas siswa kelas VII SMP setelah dilakukan pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching pada subpokok bahasan keliling dan luas segitiga?.

C.       Tujuan Penelitian
Dengan mengingat tujuan merupakan arah dari suatu kegiatan agar tercapai hasil seperti yang diharapkan. Maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah “untuk mengetahuai cara yang tepat dalam meningkatkan aktivitas siswa kelas VII SMP  pada proses pembelajaaran melalui pendekatan Reciprocal Teaching.

D.       Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis berharap semoga hasil penelitian dapat memberikan manfaat konseptual utamanya kepada pembelajaran matematika. Disamping itu juga kepada penelitian peningkataan mutu proses dan hasil pembelajaran matematika SMP.

                           1.     Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.    Sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Reciprocal Teaching.
b.    Sebagai pijakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian  yang menggunakan pendekatan Reciprocal Teaching.
c.    Bagi siswa agar dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
                           2.     Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfat sebagai berikut:
a.    Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan masukkan khususnya bagi guru kelas VII tentang suatu alternative pembelajaran matematika untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching.
b.    Bagi siswa terutama sebagai subyek penelitian, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai adanya kebebasan dalam belajar matematika secara aktif dan menyenangkan melalui pendekatan Reciprocal Teaching.
c.    Bagi sekolah, penelitian ini memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan metode pembelajaran matematika.




BAB II
LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas tentang tinjauan pustaka, kajian teori, kerangka pemikiran, dan perumusan hipotesis. Tinjauan pustaka merupakan sistematis tentang hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan. Kajian teori yang dipaparkan adalah teori-teori yang berkaitan dengan variable-variabel penelitian yang akan dibahas beserta indikator-indikatornya. Kerangka berfikir akan membahas tentang landasan teori dan hipotesis yang akan berhubungan antar semua variabel dalam penelitian. Hipotesis tindakan akan mengulas tentang jawaban sementara melalui tindakan-tindakan yang dilakukan dengan hasil yang diharapkan.

A.      Tinjauan Pustaka
1.    Pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching
a.    Pembelajaran
Istilah pembelajaran merupakan padanan dari kata dalam bahasa inggris instruction yang berarti proses membuat orang belajar. Menurut Syaiful Sagala (2006: 61) pembelajaran adalah membelajarkan siswa mengunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik dan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.
b.    Matematika
Menurut Johnson dan Myklebust dalam Abdurrahman (2003: 252) meatematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir.
Menurut Palina dalam Abdurrahaman (2003: 252), ide  manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ia mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukakan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan menghitung dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan.
Dari beberapa pendapat diatas penulis simpulkan bahwa matematika adalah bahasa simbol-simbol untuk menemukan sesuatu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi manusia, baik berupa informasi, pengetahuan tentang bentuk ukuran, ataupun pikiran manusia untuk melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.
c.    Reciprocal Teaching
Reciprocal Teaching merupakan salah satu model yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain. Yang diharapkan selain tujuan agar pembelajaran tersebut tercapai maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri juga dapat ditingkatkan.
Menurut Ann Brown dalam Suyitno (2001) pada pembelajaran Reciprocal Teaching, kepada para siswa diajarkan empat strategi pemahaman mandiri yang spesifik yaitu sebagai berikut:
1)   Siswa mempelajari materi yang ditugaskan guru secara mandiri, selanjutnya menerangkan/ meringkas materi tersebut.
2)   Siswa membuat pertanyan yang berkaitan dengan materi yang diringkasnya, pertanyan ini diharapakan mampu mengungkap penguasaan atas materi yang bersangkutan.
3)   Siswa mampu menjelaskan kembali isi materi tersebut kepada pihak lain.
4)   Siswa mampu memprediksi kemungkinan pengembangan materi yang dipelajarinya saat itu.
Dipihak lain guru memberikan dukungan, umpan balik, dan rangsangan ketika siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri.
           
Dengan demikian, kekuatan-kekuatan Reciprocal Teaching adalah:
1)   Melatih siswa belajar mandiri, sehingga kemampuan siswa dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan.
2)   Melatih siswa untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain. Dengan demikian, penerapan pembelajaran ini dapat dipakai untuk melatih siswa tampil didepan kelas.
3)   Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, kemampuan bernalar siswa semakin berkembang.
4)   Mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
d.   Materi  yang Berkaitan dengan Reciprocal  Teaching
1)   Permasalahan materi
a)    Keliling Segitiga
Budi berlari mengelilingi sebuah taman. Taman itu berukuran 10m, 15m, dan 13m. Berapa jarak yang ditempuh Budi ketika mengelilingi taman itu sebanyak satu kali. Taman itu berbentuk seperti gambar dibawah ini.
 





Dari permasalahan diatas tentukan cara menentukan keliling segitiga.
b)   Luas Segitiga
Wanda ingin menanam rumput di halaman rumahnya. Halaman yang akan ditanami rumput berbentuk segitiga. Agar dapat menentukan beberapa banyak rumput yang diperlukan maka ia harus lebih dulu menghitung luas halaman. Dapatkah kalian membantu Winda untuk menghitung luas sebuah segitiga?

2)   Penyelesaian Materi
a)   
A
Keliling Segitiga

C
B
 








Misalkan titik sudut taman itu adalah A, B, C dengan AB = 10m, BC = 15m dan CA = 13m. Misalkan pula Budi mulai berlari dari titik A kemudian ke B, kemudian ke C, dan kembali lagi ke A,  maka jarak yang ditempuh adalah:
AB + BC + CA = 10m + 15m + 13m = 38m
Jarak yang ditempuh Budi ketika mengelilingi taman itu satu kali adalah 38m. Pada kasus diatas jarak yang ditempuh Budi sama dengan keliling segitiga. Jadi dapat disimpulkan bahwa keliling Segitiga adalah jumlah panjang ketiga sisi segitiga.
b)   Luas Segitiga
Untuk menemukan rumus luas segitiga, langkah-langkahnya yaitu membuat tabel seperti di bawah ini kemudian mengisi dengan gambar sebuah bangun yang diminta. Cara mengitung luas yaitu dengan menghitung  banyaknya petak persegi satuan.







t

















t







(2)
(1)
alas
alas



No
Luas Persegi Panjang
Luas Segitiga
1.
4 x 5 = 20
20 : 2 = 10
2.
2 x 4 = 8
8 : 2 = 4

Dapat disimpulkan
 Luas Segitiga =
=
=  x alas x tinggi
=  x a x t

3)   Latihan
a)        Hitunglah keliling segitiga di bawah ini.
5
4
6
 









b)        Hitunglah luas segitiga berikut.

5
8000
 




4)   Jawaban
a)        Keliling segitiga =  6 +  4 + 5 = 15
Jadi keliling segitiga itu adalah 15
b)        Luas segitiga =  x a x t
                        =  x 5 x 8
                        =
                        = 20
Jadi luas segitiga itu adalah 20

2.    Aktivitas Belajar
a.    Pengertian Aktivitas          
Kata aktivitas berasal dari bahasa inggris “activity” yang artinya kegiatan atau kesibukan. Aktivitas Pembelajaran dilakukan dalam bentuk interaksi antar guru dengan siswa. Interaksi antar guru dengan siswa. Interaksi disini maksudnya, dalam proses belajar mengajar ada beberapa kegiatan antara lain:a. aktivitas tes awal (pritest), yang dalam hal ini guru menstimulasi siswa untuk aktif mengingat kembali dan mengemukakan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan guru; b. guru menyajikan materi pelajaran dengan metode tertentu, sehingga terjadi interaksi antara guru dengan siswa; c. guru mengadakan evaluasi baik dipertengahan atau pada akhir penyampaian materi; d. memberikan kesempatan siswa untuk mengevaluasi, dan sebagainya (Abdul, 2002: 132).

b.    Jenis-jenis Aktivitas
Macam-macam aktivitas belajar yang disusun oleh Paul B. Diedrich dalam Rohani (2004: 9), yang diantaranya sebagai berikut:
1)    Visual activities , seperti: membaca, melihat gambar, demonstrasi, percobaan, mengamati pekerjaan lain.
2)    Oral activities, seperti : menanyakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapatt, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3)    Listening activities, seperti : mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4)    Writing activities, seperti : menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5)   Drawing activities, misalnya : mengagambar, membuat grafik, peta, diagram.
6)   Motor activities, misalnya: melakukan percobaan, membuatkonstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7)   Mental activities, seperti: menanggapi, mengingat, memecahakan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8)   Emosional activities, seperti: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Berdasarkan klasifikasi aktivitas seperti diuraiakn diatas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah itu cukup kompleks dan bervariasi. Jika berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjaaaaadi pusat aktivitas siswa yang maksimal sehingga dapat meningkatka hasil belajar siswa.
c.    Manfaat aktivitas dalam pembelajaran
Lianny (2001: 3) menyembutkan penggunaan asas aktivitas dalam proses pembelajaran memiliki manfaat tertentu antara lain:
1)   Siswa mengalami pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
2)   Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa.
3)   Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.
4)   Siswa belajar dan bekereja berdasarkan minat dan kemapuan sendiri, sehingga dapat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.
5)   Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokrotis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.
6)   Membina dan memupuk kerjasama antara sekolah dan masyarakat dan hubungan antar guru dan orang tua siswa, yang bermanfaat bagi pendidikan siswa.
7)    Pembelajaran dan belajar dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berfikir kritis sehingga menghindarkan terjadinya verbalisme.
8)   Pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar menjadi hidup sebagaiman kehidupan didalam masyarakat yang penuh dinamika.
Aktivitas dalam proses pembelajaran meliputi aktif dalam menjelasakan/menyajikan hasil temuannya di depan kelas, aktif dalam menjelasakan/menyajikan hasil temuannya di depan kelas, aktif dalam diskusi kelompok, mengemukakan ide atau alternatif jawaban dan berani mengajukan pertanyaan.
 Dalam proses balajar mengajar guru harus dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam berfikir maupun bertindak. Dengan aktivitas siswa, kemungkinan pelajaran akan menjadi berkesan dan dipikirkan, diolah kemudian dikeluarakan lagi dalam  bentuk yang berbeda, misalnya: bertanya, mengajukan penadapat, mengerjakan tugas dan lain-lain.




3.    Prestasi Belajar Matematika
Menurut Sukmadinata (2003: 102-103), prestasi belajar adalah realisasi/ pemekaran dari kecakapan-kecakapan pontensional atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berfikir, maupun ketrampilan motoriil. Hampir sebagian besar dari kegiatan atau perilaku yang diperhatikan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuh.
Menurut Pargiyo (2000: 57), prestasi belajar mempunyai komponen-komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian prestasi. Komponen-komponen tersebut adalah:
a)    Siswa
     Faktor dari siswa yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar adalah bakat, minat, kemampuan, dan motivasi untuk belajar.
b)   Kurikulum
Kurikulum mencakup: landasan program dan pengembangan, GBPP, dan pedoman GBPP berisi materi atau bahan kajian yang telah disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.
c)    Guru
     Guru bertugas membimbing dan mengarahkan cara belajar siswa agar mencapai hasil optimal.
d)   Metode
     Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
e)    Sarana-prasarana
     Yang dimaksud sarana-prasarana antara lain buku pelajaran, alat pelajaran, alat praktek, ruang belajar, laboratorium, dan perpustakaan.
f)    Lingkungan
Lingkungan yang mencakup lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan juga lingkungan alam merupakan sumber belajar.
            Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah melalui serangkaian kegiatan pembelajaran matematika.

B.       Penelitian Yang Relevan
Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran matematika. Diantara penelitian pembelajaran matematika tersebut adalah:
Penelitian Anggoro (2000) dalam skripsinya berjudul “ Meningkatkan Keberanian Bertanya Siswa Kelas II Pada Kegiatan Belajar Mengajar di SMU II Surakarta”. Dari penilain tersebut disimpulkan:
a.    Upaya meningkatkan rasa minder atau fobia matematika yang dapat menghambat pada keberanian bertanya siswa dapat diantisipsai melalui:
1)   Penciptaan hubungan baik dengan siswa yang baik.
2)   Pembelajaran yang efektif.
b.    Guru berperan dalam mengatasi fobia matematika memotivikasi siswa untuk berprestasi dalam matematika. Untuk itu guru harus merangsang siswa agar aktif bertanya. Dimana tujuan mengajukan pertanyaan antara lain :
1)        Mendorong siswa untuk berfikir.
2)        Menarik perhatian siswa.
3)        Memeriksa tanggapan siswa.
4)        Mengarahkan pelatihan siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Sucipto (2003) menunjukan bahwa dengan menggunakan model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) maka kemampuan menyelesaikan soal PR matematika yang dialami siswa kelas IIB MTS Muhammadyah 2 Patean dapat ditingkatkan dan prestasi siswa dapat ditumbuhkembangkan dengan ketuntasan kelas menacapi 87,5% dan cara penyajiannya dilakukan oleh siswa sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Waluyono (2003) menyebutkan bahwa penelitian tindakan kelas dengan pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching), Kemampuan siswa dalam belajar mandiri ditingkatkan dan hasil belajar siswa juga meningkat.
Dari penelitian-penelitian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dari setiap penelitian yaitu: Penelitian yang dilakukan oleh Anggoro mengkaji tentang keberanian bertanya siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar matematika, penelitian Sucipto mengkaji tentang pengaruh penggunaan model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) dan dampaknya prestasi siswa dapat ditumbuhkembangkan dan dan cara penyajiannya dilakukan oleh siswa sendiri , penelitian Waluyono mengkaji tentang pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) dan dampaknya kemampuan siswa dalam belajar mandiri ditingkatkan dan hasil belajar siswa juga meningkat. Dari penelitian diatas menunjukkan bahwa metode dalam proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, sedangkan metode yang sesuai dapat membantu siswa untuk mencapai keberhasilan belajarnya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk lebih mengembangkan penelitian-penelitian yang telah ada maka penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian yang lebih menekankan pada pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching untuk meningkatkan aktivitas siswa kelas VII SMP N 1 Sawit.

C.      Kerangka Pemikiran
Matematika merupakan pelajaran yang diamggap paling sulit, menakutkan dan membosankan. Melihat kenyataan seperi itu menjadi tanggung jawab bersama untuk menepis semua anggapan negatif tentang pelajaran matematika. Selain itu guru guru dalam pembelajaran matematika banyak mengalami kesulitan, salah satu kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajran matematika adalah sulit dalam mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran.
Selama ini yang nampak dalam pembelajaran hanya guru yang terlibat aktif sedangkan siswa cenderung pasif. Sehingga prestasi belajar siswa masih kurang. Padahal untuk mempelajari matematika bukan hanya peran guru yang dibutuhkan tetapi aktivitas siswa sangat mendukung tercapainya pembelajaran yang optimal dan meningkatkan prestasi belajar.
Tindakan kelas yang dilaksanakan berupa pengajaran di kelas secara sistematis dengan tindakan pengelolaan kelas melalui strategi, pendekatan, metode dan teknik pengajaran yang tepat dengan penerapan kondisional yang mengacu pada perencanaan tindakan yang telah tersusun sebelumnya. Dan teknik pengajaran yang digunakan adalah melalui pendekatan Reciprocal Teaching, karena melalui pendekatan Reciprocal Teaching diharapkan siswa akan lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Dalam penelitian peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching, peneliti akan : 1.  melatih siswa belajar mandiri, sehingga kemampuan siswa dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan; 2.  melatih siswa untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain.; 3. orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.; 4. mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
Dalam sekali tindakan biasanya permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian sehingga siklus tersebut harus terus berulang sampai permasalahan tersebut teratasi.









Uraian-uraian di atas dapat digambarkan pada siklus sebagai berikut:
Kondisi awal
Masalah aktivitas siswa :
Siswa yang aktif dalam menjelasakan/ menyajikan hasil temuannya didepan kelas sebanyak 6 siswa (15%).




Pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching:
1.      Melatih siswa belajar mandiri, sehingga kemampuan siswa dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan.
2.      Melatih siswa untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain. Dengan demikian, penerapan pembelajaran ini dapat dipakai untuk melatih siswa tampil di depan kelas.
3.      Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, kemampuan bernalar siswa semakin berkembang.
4.      Mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

 







                                   
Tindakan
Kondisi Akhir
Penyelesaian masalah aktivitas siswa meningkat: Siswa yang aktif dalam menjelasakan/menyajikan hasil temuannya didepan kelas sebanyak 65%



 
















D.      Hipotesis
Berdasarkan permasalahan – permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka diperoleh hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: Jika dalam pembelajaran metematika guru melalui pendekatan Reciprocal Teaching  maka aktivitas siswa dikelas akan meningkat.

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara-cara atau langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti. Metode penelitian ini lebih cenderung sebagai pertanggung jawaban mengenai metode-metode yang dipergunakan selama penelitian berlangsung dari awal sampai akhir.

A.      Jenis  Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Penelitian  kelas  merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dimulai dari : a) perencanaan (planning), b) pelaksanaan (action), c) pengumpulan data (observing), d) menganalisis data atau informasi untuk memutuskan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut (reflecting). PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya (berhentinya) siklus-siklus tersebut. Dalam penelitian tindakan kelas, peneliti melakukan sesuatu tindakan yang secara khusus diamati terus-menerus, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat (Suharsimi Arikunto, 2002: 2).
Menurut Sugiyono (2007: 1) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alami, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara kepala sekolah, guru tetap dan peneliti. Kegiatan perencanaan awal dimulai dari melakukan studi pendahuluan. Pada kegiatan ini juga mendiskusikan cara melakukan tindakan pembelajaran dan bagaimana cara melakukan pengamatannya.

Pelaksanaan tindakan penelitian adalah guru matematika berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, melaksanakan pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pengamatan selama tindakan penelitian dilakukan oleh peneliti bersama guru matematika yang semula mengajar dikelas. Pengamatan dilakukan berdasarkan pedoman observasi yang telah disiapkan peneliti. Kejadian-kejadian penting selama proses tindakan berlangsung yang belum termuat dalam pedoman observasi dibuat pada catatan lapangan.
Refleksi dilaksanakan peneliti bersama guru matematika. Kegiatan ini berdiskusi untuk memberikan makna, menerangkan dan menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan kesimpulan pada kegiatan refleksi ini suatu perencanaan untuk siklus berikutnya dibuat, atau tindakan penelitian dipandang cukup.

B.       Tempat dan Waktu Penelitian
1.    Tempat Penelitian
Tempat yang digunakan sebagai penelitian mengenai peningkatan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching di SMP N 1 Sawit yang terletak di Kelurahan Kateguhan, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Sekolah ini merupakan Sekolah Menengah Pertama yang termasuk kategori “Menengah”. Bukan merupakan Sekolah “Unggulan” dan bukan pula sekolah yang “Jelek”. Peneliti mengadakan penelitian ini dengan pertimbangan sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti.

2.    Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun 2011, Lebih tepatnya bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2011. Adapun tahapan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:


No
Jenis Kegiatan
Bulan
Mei
Juni
Juli
Agustus
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Tahap Persiapan

















a.  Pengumpulan Data
x
x
x














b. Perencanaan  Tindakan



x
x











2
Tahap Pelaksanaan Penelitian

















a. Pelaksanaan Putaran
    I-III





x
x
x
x
x






3
Tahap Penyelesaian

















a. Penyusunan Laporan










x
x
x




b. Bimbingan Laporan












x
x



C.      Subjek Penelitian               
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP N 1 Sawit tahun ajaran 2010/ 2011 dengan jumlah siswa 40 siswa yang terdiri dari 21 putra dan 19 putri. Dalam penelitian ini guru matematika kelas VII sebagai subyek penelitian yang membantu dalam perencanaan dan pengumpulan data. Sedangkan peneliti sebagai subyek penelitian yang melakukan tindakan kelas. Semua siswa kelas VII SMP N 1 Sawit tahun ajaran 2010/ 2011 sebagai subyek yang menerima tindakan.

D.      Perencanaan Penelitian
Penelitian ini merupakan berbasis kelas kolaboratif. Suatu penelitian yang bersifat praktis, situasional dan konteksual berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan  pembelajaran sehari-hari di SMP N 1 Sawit. Kepala sekolah, guru dan peneliti  senantiasa berupaya  memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang efektif sehingga dimungkinkan adanya tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan aktivitas siswa. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar matematika serta perolehan manfaat yang lebih baik.
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari siklus-siklus. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahannya yang dicapai, seperti yang telah dibuat dalam faktor-faktor yang diselidiki. Untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika pada subpokok bahasan keliling dan luas segitiga di kelas VII SMP N 1 Sawit kabupaten Boyolali dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru. Melalui langkah-langkah tersebut akan dapat ditentukan tindakan yang tepat dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan dalam uraian berikut :
1.    Dialog Awal
Dialog awal dilakukan peneliti, guru matematika dan kepala sekolah pada hari Senin 6 Juni 2011 untuk melakukan pengenalan, penyatuan ide dan berdiskusi untuk membahas masalah yang muncul. Serta cara-cara peningkatan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika yang terfokus pada interaksi antara guru dan siswa. Peserta dialog juga membicarakan model dan alternatif pembelajaran yang akan dipraktekkan dan dikembangkan. Dialog ini nantinya akan menyepakati penanganan masalah peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching pokok bahasan Keliling dan Luas Segitiga.
2.    Perencanaan Tindakan
a.    Mengidentifikasi Masalah
Peneliti merumuskan permasalahan siswa sebagai upaya meningkatkan aktivitas siswa melalui pendekatan Reciprocal Teaching. Tindakan yang dilakukan  adalah yang disebutkan antara lain: Diskusi dengan guru matematika kelas VII untuk membahas batasan masalah dan juga melakukan latihan soal sebelum tindakan.
b.    Mengidentifikasi Siswa
Hal ini dilakukan untuk mengetahui siswa yang pandai, sedang dan kurang melalui pengumpulan data. Identifikasi ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching. Tindakan yang ditawarkan pada identifikasi masalah antara lain :
1)   Musyawarah dengan guru matematika kelas VII.
2)   Mengacu pada dokumen hasil tes pertama tentang aktivitas siswa pada saat pembelajaran matematika.
Langkah-langkah tindakannya adalah disebutkan di bawah ini:
a)    Observasi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada hari Selasa 7 Juni 2011 untuk memperoleh gambaran tentang kegiatan belajar mengajar matematika, suasana kelas, sikap siswa, dan observasi mengajar guru termasuk metode mengajar yang digunakan. Dari observasi awal ini, diketahui : 1) Guru yang lebih aktif sehingga aktivitas siswa terbatas pada mendengarkan, mencatat, menjawab pertanyaan. 2) Siswa bekerja atas permintaan guru, menurut cara yng ditentukan guru, begitu juga berfikir menurut yang digariskan oleh guru. Sehingga proses pembelajaran tidak mendorong siswa untuk befikir dan beraktivitas, bahkan cenderung membosankan membuat siswa pasif dan mempertebal rasa takut siswa. 3) Guru jarang mendekati dan membimbing siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Hal inilah menjadi salah satu penyebab rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika yang mengakibatkan prestasi belajar juga tidak maksimal.
b)   Diskusi antara peneliti dan guru kelas untuk membahas batasan masalah aktivitas yang terjadi pada kelas VII SMP N 1 Sawit. Biasanya muncul masalah aktivitas disebabkan karena siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran serta siswa kurang dibiasakan untuk bersikap aktif dan kreatif dalam belajar.

c.    Perencanaan Solusi Masalah
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP N 1 Sawit antara lain:
1)   Model pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran malialui pendekatan Reciprocal Teaching. Pembelajaran Reciprocal Teaching ini merupakan salah satu model yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain. Yang diharapkan selain tujuan agar pembelajaran tersebut tercapai maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri juga dapat ditingkatkan.
2)   Tindakan pembelajaran untuk memperbaiki aktivitas  siswa yaitu: a) Siswa mempelajari materi yang ditugaskan guru secara mandiri, selanjutnya menerangkan/ meringkas materi tersebut, b) siswa membuat pertanyan yang berkaitan dengan materi yang diringkasnya, pertanyan ini diharapakan mampu mengungkap penguasan atas materi yang bersangkutan, c) siswa mampu  menjelasakan/menyajikan hasil temuannya didepan kelas, d) siswa mampu memprediksi kemungkinan pengembangan materi yang dpelajarinya saat itu.
d.   Perencanaan Setiap Putaran
1)   Perencanaan Putaran I
Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Juni 2011 dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama 2 jam pelajaran (80 menit), dengan materi ajar yang disampaikan yaitu keliling segitiga.
2)   Perencanaan Putaran II
   Pembelajaran dilaksanakan hari Rabu,15 Juni 2011 dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama 2  jam pelajaran (80 menit), dengan materi ajar yang disampaikan yaitu mencari luas segitiga.
3)   Perencanaan Putaran III
Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Juni 2011 dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama 2 jam pelajaran (80 menit), dengan materi ajar yang disampaikan yaitu membahas soal-soal terkait dengan materi segitiga yang telah dijelaskan.
3.    Pelaksanaan Tindakan
            Pelaksanaan tindakan ini dilakukan oleh guru yang akan diobservasi. Guru menjadi mitra, karena guru berfungsi sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching. Karena terjadi dalam situasi nyata maka tindakan yang diambil banyak menghadapin kendala, oleh karena itu rencana tindakan harus bersifat sementara, fleksibel dan siap diubah sesuai dengan kondisi yang ada sebagai upaya kearah perbaikan. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan selama tiga kali putaran, dimulai minggu ke dua bulan Juni 2011.
            Dalam pelaksanaan pengajaran dikelas lebih mengarah pada substansi yang menjadi permasalahan pokok untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam memecahkan masalah matematika, memahami dan menyelesaikan soal-soal matematika.
4.    Observasi dan Monitoring
Monitoring yang dilaksanakan memiliki dua fungsi pokok, yaitu: untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan dan untuk mengetahui seberapa pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung dengan harapan akan menghasilkan perubahan yang diinginkan. Disamping itu, monitoring dan observasi digunakan pula untuk menjaring atau menangkap data kualitatif tentang pelaksanaan tindakan. Peneliti melakukan pengamatan di kelas untuk merekam semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan berlangsung dan ikut membantu guru dalam proses pembelajaran. Tindakan pembelajaran selalu mengacu pada pendekatan Reciprocal Teaching, dimana peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain, maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri juga dapat ditingkatkan.
Observer atau peneliti mengamati proses pembelajaran  dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu  yang terjadi pada proses pembelajaran matematika dengan melalui pendekatan Reciprocal Teaching, baik mengenai guru, siswa, situasi kelas dan lingkungan sekitarnya. Observasi ini dilaksanakan selama tindakan kelas diberikan. Jadi observasi dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan 3 kali yaitu pada tanggal 7 Juni 2011, 14 Juni 2011, dan 21 Juni 2011.
5.    Refleksi dan Evaluasi
Evaluasi dan refleksi dilakukan secara beruntun, data kualitatif dan kuantitatif ditangkap di dalam evaluasi. Data kualitatif diperoleh selama observasi yaitu data tentang peningkatan keberanian siswa dalam mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain di depan kelas untuk materi keliling dan luas segitiga yang meliputi materi ajar secara simple dan sistematis, yang dapat merangsang siswa dalam belajar mandiri; berani bertanya; mendengarkan; mengungkapkan ide; mengerjakan soal-soal latihan; antusias dalam belajar; serta memperhatikan guru. Pengamatan terhadap guru juga dilakukan selama pembelajaran berlangsung yang meliputi kemampuan mengajar, managemen kelas, penguasaan bahan ajar, dan penguasaan materi pelajaran.
Refleksi memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengadakan koreksi data, mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak tindakan yang dikenakan terhadap siswa. Data yang muncul di lapangan, selanjutnya dipakai sebagai dasar melaksanakan perencanaan ulang, penyempurnaan, merevisi rancangan untuk tindakan selanjutnya. Walaupun refleksi ini dilaksanakan pada setiap akhir putaran penelitian, tetapi bila ada hal-hal yang mendesak dan perlu diatasi atau ditangani segera, kegiatan refleksi dapat dilaksanakan sewaktu-waktu.

E.       Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, catatan lapangan dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dan bekerja secara kolaboratif dengan guru matematika kelas VII SMP N 1 Sawit dibantu oleh Kepala Sekolah. Data penelitian ini bersumber dari interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran matematika kelas VII SMP N 1 Sawit dan berupa tindakan belajar atau perilaku yang dihasilkan dari tindakan mengajar.
1.    Observasi 
Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti. (Sugiyono, 2007:68). Observasi ini diarahkan kepada tindakan guru atau siswa dalam proses pembelajaran. Observasi dilakukan di kelas yang menjadi subjek penelitian untuk mendapatkan gambaran secara langsung tentang kegiatan belajar siswa di kelas. Dengan observasi, dapat diketahui kegiatan siswa dalam mempersiapkan, memperhatikan dan menanggapi penjelasan dari guru selama proses pembelajaran berlangsung. 
2.    Wawancara 
 Pada pelaksanaannya, peneliti mewawancarai guru kelas VII secara bebas terpimpin mengenai hal-hal yang mendukung hasil penelitian. Wawancara terhadap siswa dilakukan secara bebas. Hal ini dimaksudkan agar wawancara dapat berlangsung dengan arah lebih terbuka. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung.
3.    Catatan Lapangan
               Catatan lapangan digunakan untuk mencatat temuan selama pembelajaran yang diperoleh peneliti yang tidak teramati dalam lembar observasi dan bentuk temuan ini berupa keadaan siswa dan permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran. Peneliti dengan pedoman catatan lapangan akan mencatat keadaan sekolah, keadaan guru, lingkungan sekolah, murid-murid di sekolah dan semua yang berhubungan dengan penelitian di SMP N 1 Sawit.

4.    Metode Dokumentasi
                Dokumentasi merupakan suatu metode untuk memperoleh data dengan melihat buku-buku, arsip-arsip, atau dapat berupa buku presensi dan lainya yang berhubungan dengan subyek penelitian. Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berupa data sekolah dan daftar nama siswa VII kelas SMP N 1 Sawit serta foto-foto rekaman saat proses penelitian berlangsung.

F.       Validitas Data
Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian, maka dipilih dan ditentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperolehnya. Validitas merupakan ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Dalam penelitian ini uji validitas yang akan digunakan adalah teknik triangulasi.
Triagulasi dalam teknik pengumpulan data ini diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
Macam triangulasi adalah teknik, berarti peniliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama (Sugiyono, 2007:83).


Berdasarkan raport peserta didik dalam kolaborasi dengan teman sejawat sebelum diadakan tindakan, siswa yang aktif dalam menjelasakan/ menyajikan hasil temuannya didepan kelas sebanyak 6 siswa (15%). Setelah diadakan penelitian dan tindakan kelas yang menerapkan pendekatan reciprocal teaching dalam pembelajaran matematika, diharapkan siswa yang aktif dalam menjelasakan/ menyajikan hasil temuannya didepan kelas mengalami peningkatan.

G.      Teknik Analisis Data
Pada penelitian tindakan kelas ini, data dianalisis sejak tindakan pembelajaran dilakukan dan dikembangkan selama proses refleksi sampai proses penyusunan laporan. Untuk kesinambungan dan kedalaman dalam pengajaran data dalam penelitian ini digunakan analisis interaktif. Data yang dianalisis secara diskriptif kualitatif dengan analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dilakukan dalam bentuk interaktif dengan pengumpulan data sebagai suatu proses siklus.
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, memilih mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain   (Sugiyono, 2007:88).
Untuk lebih jelasnya proses analisis interaktif dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut:

Pengumpulan Data                                        Penyajian Data


Reduksi Data                                                        Penarikan Kesimpulan

Proses Analisis Interaktif
Reduksi data adalah kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari hasil catatan lapangan. Menurut Paimila (2005: 98) reduksi data dilakukan dengan cara melakukan abstraksi yaitu membuat rangkuman inti, membuang data yang tidak perlu, mengatur data dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga agar tetap berada didalamnya, sehingga penarikan kesimpulan akhir dari penelitian dapat dilakukan dengan mudah. Kegiatan ini dilakukan setiap akhir tindakan. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas sehingga mudah dipahami, dilakukan secara bertahap dari kesimpulan sementara kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar