BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Mempelajari matematika bukan hanya untuk
mengetahui dan memahami apa yang terkandung dalam matematika itu sendiri.
Matematika diajarkan karena dapat menumbuhkembangkan kemampuan bernalar yaitu
berfikir sistematis, logis, dan kritis dalam memecahkan masalah. Disamping itu
agar siswa terbentuk kepribadiannya menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika sebagai salah satu bagian
dari ilmu pengetahuan, merupakan mata pelajaran yang diajarkan pada semua
tingkat pendidikan rendah sampai kejenjang pendidikan tinggi. Dari
masing-masing jenjang tersebut, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam
mempelajari matematika sehingga wajar jika matematika tidak banyak disenangi
orang, bahkan ada yang merasa takut.
Ketakutan yang muncul dari diri siswa
tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri, tetapi juga didukung oleh
ketidakmampuan guru menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik
terhadap matematika. Belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari
penyampaian
informasi kepada siswa, apalagi untuk belajar matematika sangat diperlukan
aktivitas fisik maupun mental siswa karena siswa yang belajar harus aktif
sendiri, tanpa ada aktivitas maka proses belajar tidak mungkin belangsung
dengan baik.
Menurut Hilgrad
dan Brower dalam Ngalim (2007:
84) mengungkapkan bahwa belajar
merupakan perubahan tingkah laku, perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat
dijelaskan atau dasar respon pembawaan,kematangan,
atau kedaan-keadaan sesaat seseorang. Oleh
karena itu, respon siswa merupakan salah satu faktor penting yang ikut
menentukan keberhasilan belajar matematika.
Berkaitan dengan hal tersebut, setelah
peneliti melakukan observasi proses pembelajaran matematika yang dilaksanakan
di SMP N 1 Sawit, ditemukan permasalahan
antara lain: 1) Guru yang lebih aktif sehingga aktivitas siswa terbatas pada
mendengarkan, mencatat, menjawab pertanyaan. 2) Siswa bekerja atas permintaan
guru, menurut cara yang
ditentukan guru, begitu juga berfikir menurut yang digariskan oleh guru.
Sehingga proses pembelajaran tidak mendorong siswa untuk befikir dan
beraktivitas, bahkan cenderung membosankan membuat siswa pasif dan mempertebal
rasa takut siswa. 3) Guru jarang mendekati dan membimbing siswa pada saat
pembelajaran berlangsung. Hal inilah menjadi salah satu penyebab rendahnya
aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika yang mengakibatkan prestasi
belajar juga tidak maksimal, dapat dilihat dari nilai Ujian Akhir Nasional
(UAN) di SMP N I Sawit. Pada Tahun 2006 rata-rata nilai UAN matematika adalah
6.99, pada tahun 2008 rata-rata nilai UAN matematika adalah 6,97. Untuk
mengantisipasi masalah tersebut maka perlu dicarikan formula pembelajaran yang
tepat sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Oleh
karena itu, guru harus terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai metode
pembelajaran yang bervariasi agar siswa lebih tertarik dalam belajar
matematika.
Pembelajaran matematika hendaknya
memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas berupa pekerjaan yang
harus diselesaiakan
atau masalah-masalah yang harus dipecahkan atas dasar kemampuan siswa sendiri,
maka mereka hendaknya memberi tugas individu disamping tugas kelompok. Hal ini
ditujukan untuk membimbing siswa kearah berdiri sendiri atas tanggung jawab
sendiri, penuh inisiatif, kreatif, dan berfikir kritis serta bertanggung jawab.
Karena aktivitas merupakan suatu hal yang sangat penting untuk meningkatakan
prestasi belajar. Dalam proses belajar mengajar tanpa adanya keaktifan siswa,
belajar tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perlu diadakan penelitian
tentang cara meningkatkan aktivitas belajar matematika melalui pendekatan Reciprocal
Teaching. Untuk itu penulis melakukan
penelitian tentang: “Upaya Peningkatan Aktivitas
Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Reciprocal Teaching pada Subpokok Bahasan Keliling
Dan Luas Segitiga Di Kelas VII SMP N 1 Sawit Tahun Ajaran 2010/ 2011”.
B.
Perumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan rumusan permasalahan yang diangkat
penulis adalah: “Adakah peningkatan aktivitas siswa kelas VII SMP setelah
dilakukan pembelajaran matematika melalui pendekatan
Reciprocal Teaching pada subpokok
bahasan keliling dan
luas segitiga?”.
C.
Tujuan
Penelitian
Dengan mengingat tujuan
merupakan arah dari suatu kegiatan agar tercapai hasil seperti yang diharapkan.
Maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah “untuk mengetahuai
cara yang tepat dalam meningkatkan aktivitas siswa kelas VII SMP pada proses pembelajaaran melalui pendekatan
Reciprocal Teaching”.
D.
Manfaat
Penelitian
Dalam penelitian ini penulis
berharap semoga hasil penelitian dapat memberikan manfaat konseptual
utamanya kepada pembelajaran matematika. Disamping itu juga kepada penelitian
peningkataan mutu proses dan hasil pembelajaran matematika SMP.
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil
penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.
Sebagai salah satu
alternatif untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Reciprocal
Teaching.
b.
Sebagai pijakan
untuk mengembangkan penelitian-penelitian
yang menggunakan pendekatan
Reciprocal Teaching.
c.
Bagi siswa agar
dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfat sebagai
berikut:
a.
Bagi guru, dapat
digunakan sebagai bahan masukkan khususnya bagi guru kelas VII tentang suatu
alternative pembelajaran matematika untuk meningkatkan aktivitas
siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching.
b.
Bagi siswa terutama
sebagai subyek penelitian, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung
mengenai adanya kebebasan dalam belajar matematika secara aktif dan
menyenangkan melalui pendekatan
Reciprocal Teaching.
c.
Bagi
sekolah, penelitian ini memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan metode
pembelajaran matematika.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada
bab ini akan dibahas tentang tinjauan pustaka, kajian teori, kerangka
pemikiran, dan perumusan hipotesis. Tinjauan pustaka merupakan sistematis
tentang hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan. Kajian teori yang
dipaparkan adalah teori-teori yang berkaitan dengan variable-variabel
penelitian yang akan dibahas beserta indikator-indikatornya. Kerangka berfikir
akan membahas tentang landasan teori dan hipotesis yang akan berhubungan antar
semua variabel dalam penelitian. Hipotesis tindakan akan mengulas tentang
jawaban sementara melalui tindakan-tindakan yang dilakukan dengan hasil yang
diharapkan.
A.
Tinjauan
Pustaka
1. Pembelajaran matematika melalui pendekatan
Reciprocal Teaching
a. Pembelajaran
Istilah pembelajaran merupakan padanan dari kata dalam
bahasa inggris instruction yang berarti proses membuat orang belajar.
Menurut Syaiful Sagala (2006: 61) pembelajaran adalah membelajarkan
siswa mengunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama
keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah,
mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik dan belajar dilakukan oleh
peserta didik atau murid.
b. Matematika
Menurut Johnson dan Myklebust dalam Abdurrahman (2003: 252)
meatematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspresikan
hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah
untuk memudahkan berfikir.
Menurut Palina dalam Abdurrahaman (2003: 252),
ide manusia tentang matematika
berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ia
mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukakan jawaban
terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi,
menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan
menghitung dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri
dalam melihat dan menggunakan hubungan.
Dari beberapa pendapat diatas penulis simpulkan bahwa
matematika adalah bahasa simbol-simbol untuk menemukan sesuatu jawaban terhadap
permasalahan yang dihadapi manusia, baik berupa informasi, pengetahuan tentang
bentuk ukuran, ataupun pikiran manusia untuk melihat dan menggunakan
hubungan-hubungan.
c. Reciprocal Teaching
Reciprocal Teaching merupakan salah satu model yang memiliki manfaat agar
tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik
mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain. Yang diharapkan selain tujuan
agar pembelajaran tersebut tercapai maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri
juga dapat ditingkatkan.
Menurut Ann Brown dalam Suyitno (2001)
pada pembelajaran Reciprocal Teaching, kepada
para siswa diajarkan empat strategi pemahaman mandiri yang spesifik yaitu
sebagai berikut:
1) Siswa mempelajari materi yang ditugaskan guru secara
mandiri, selanjutnya menerangkan/ meringkas materi tersebut.
2) Siswa membuat pertanyan yang berkaitan dengan materi
yang diringkasnya, pertanyan ini diharapakan mampu mengungkap penguasaan
atas materi yang bersangkutan.
3) Siswa mampu menjelaskan kembali isi materi tersebut
kepada pihak lain.
4) Siswa mampu memprediksi kemungkinan pengembangan
materi yang dipelajarinya saat itu.
Dipihak lain guru memberikan dukungan, umpan balik,
dan rangsangan ketika siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri.
Dengan demikian, kekuatan-kekuatan Reciprocal
Teaching adalah:
1) Melatih siswa belajar mandiri, sehingga kemampuan
siswa dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan.
2) Melatih siswa untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari
kepada pihak lain. Dengan demikian, penerapan pembelajaran ini dapat dipakai
untuk melatih siswa tampil didepan kelas.
3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan
yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, kemampuan
bernalar siswa semakin berkembang.
4) Mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
d. Materi yang Berkaitan dengan Reciprocal Teaching
1) Permasalahan materi
a) Keliling Segitiga
Budi
berlari mengelilingi sebuah taman. Taman itu berukuran 10m, 15m, dan 13m. Berapa jarak yang ditempuh Budi ketika
mengelilingi taman itu sebanyak satu kali. Taman itu berbentuk seperti gambar dibawah ini.
Dari
permasalahan diatas tentukan cara menentukan keliling segitiga.
b) Luas Segitiga
Wanda ingin menanam rumput di halaman rumahnya.
Halaman yang akan ditanami rumput berbentuk segitiga. Agar dapat menentukan
beberapa banyak rumput yang diperlukan maka ia harus lebih dulu menghitung luas
halaman. Dapatkah kalian membantu Winda untuk menghitung luas sebuah segitiga?
2) Penyelesaian Materi
a)
|
A
|
|
C
|
|
B
|
Misalkan titik sudut taman itu adalah A, B, C dengan
AB = 10m, BC = 15m dan CA = 13m. Misalkan pula Budi mulai berlari dari titik A
kemudian ke B, kemudian ke C, dan kembali lagi ke A, maka jarak yang ditempuh adalah:
AB + BC + CA = 10m + 15m + 13m = 38m
Jarak yang ditempuh Budi ketika mengelilingi taman itu satu kali adalah
38m. Pada kasus diatas jarak yang ditempuh Budi sama dengan keliling segitiga. Jadi dapat disimpulkan bahwa keliling Segitiga adalah jumlah panjang ketiga sisi
segitiga.
b) Luas Segitiga
Untuk menemukan rumus luas
segitiga,
langkah-langkahnya yaitu membuat tabel seperti di bawah ini kemudian
mengisi dengan gambar sebuah bangun yang diminta. Cara
mengitung luas yaitu dengan menghitung banyaknya petak persegi satuan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(2)
|
|
(1)
|
|
alas
|
|
alas
|
|
No
|
Luas Persegi
Panjang
|
Luas Segitiga
|
|
1.
|
4 x 5
= 20
|
20 : 2 = 10
|
|
2.
|
2 x 4 = 8
|
8 :
2 = 4
|
Dapat disimpulkan
Luas Segitiga =
=
=
x alas x
tinggi
=
x a x t
3) Latihan
a)
Hitunglah keliling segitiga di bawah ini.
|
5
|
|
4
|
|
6
|
b)
Hitunglah luas segitiga berikut.
|
5
|
|
8000
|
4) Jawaban
a)
Keliling segitiga = 6 + 4 + 5 = 15
Jadi keliling segitiga itu adalah 15
b)
Luas segitiga =
x a x t
=
x 5 x 8
=
= 20
Jadi luas segitiga itu adalah 20
2. Aktivitas Belajar
a. Pengertian Aktivitas
Kata aktivitas berasal dari bahasa inggris “activity”
yang artinya “kegiatan” atau “kesibukan”. Aktivitas Pembelajaran dilakukan dalam bentuk
interaksi antar guru dengan siswa. Interaksi antar guru dengan siswa. Interaksi
disini maksudnya, dalam proses belajar mengajar ada beberapa kegiatan antara
lain:a. aktivitas tes awal (pritest), yang dalam hal ini guru menstimulasi
siswa untuk aktif mengingat kembali dan mengemukakan jawaban terhadap
pertanyaan yang diajukan guru; b. guru menyajikan materi pelajaran dengan
metode tertentu, sehingga terjadi interaksi antara guru dengan siswa; c. guru
mengadakan evaluasi baik dipertengahan atau pada akhir penyampaian materi; d.
memberikan kesempatan siswa untuk mengevaluasi, dan sebagainya (Abdul, 2002: 132).
b. Jenis-jenis Aktivitas
Macam-macam aktivitas belajar yang disusun oleh Paul
B. Diedrich dalam Rohani (2004: 9), yang diantaranya sebagai berikut:
1) Visual
activities , seperti:
membaca, melihat gambar, demonstrasi, percobaan, mengamati pekerjaan lain.
2) Oral
activities, seperti : menanyakan,
merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapatt, mengadakan
wawancara, diskusi, interupsi.
3) Listening
activities, seperti :
mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4) Writing
activities, seperti :
menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5) Drawing activities, misalnya : mengagambar, membuat grafik, peta, diagram.
6) Motor activities, misalnya: melakukan percobaan, membuatkonstruksi,
model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7) Mental activities, seperti: menanggapi, mengingat, memecahakan soal,
menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8) Emosional activities, seperti: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat,
bergairah, berani, tenang, gugup.
Berdasarkan klasifikasi aktivitas seperti diuraiakn diatas
menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah itu cukup kompleks dan bervariasi. Jika
berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu akan lebih
dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjaaaaadi pusat aktivitas siswa
yang maksimal sehingga dapat meningkatka hasil belajar siswa.
c. Manfaat aktivitas dalam
pembelajaran
Lianny (2001: 3) menyembutkan penggunaan asas
aktivitas dalam proses pembelajaran memiliki manfaat tertentu antara lain:
1) Siswa mengalami pengalaman sendiri dan langsung mengalami
sendiri.
2) Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek
pribadi siswa.
3) Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan para siswa
yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.
4) Siswa belajar dan bekereja berdasarkan minat dan
kemapuan sendiri, sehingga dapat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan
individual.
5) Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang
demokrotis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.
6) Membina dan memupuk kerjasama antara sekolah dan
masyarakat dan hubungan antar guru dan orang tua siswa, yang bermanfaat bagi
pendidikan siswa.
7) Pembelajaran
dan belajar dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan
pemahaman dan berfikir kritis sehingga menghindarkan terjadinya verbalisme.
8) Pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar menjadi
hidup sebagaiman kehidupan didalam masyarakat yang penuh dinamika.
Aktivitas dalam proses pembelajaran meliputi aktif dalam menjelasakan/menyajikan hasil temuannya di depan kelas, aktif dalam menjelasakan/menyajikan hasil temuannya di depan kelas, aktif dalam diskusi kelompok, mengemukakan
ide atau alternatif jawaban
dan berani mengajukan pertanyaan.
Dalam proses
balajar mengajar guru harus dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam berfikir
maupun bertindak. Dengan aktivitas siswa, kemungkinan pelajaran akan menjadi
berkesan dan dipikirkan, diolah kemudian dikeluarakan lagi dalam bentuk yang berbeda, misalnya: bertanya,
mengajukan penadapat, mengerjakan tugas dan lain-lain.
3.
Prestasi Belajar
Matematika
Menurut Sukmadinata (2003: 102-103), prestasi belajar
adalah realisasi/ pemekaran
dari kecakapan-kecakapan pontensional atau kapasitas yang dimiliki seseorang.
Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik
perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berfikir, maupun
ketrampilan motoriil. Hampir sebagian besar dari kegiatan atau perilaku yang
diperhatikan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar dapat
dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuh.
Menurut Pargiyo (2000: 57), prestasi
belajar mempunyai komponen-komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan
pencapaian prestasi. Komponen-komponen tersebut adalah:
a)
Siswa
Faktor
dari siswa yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar adalah bakat, minat,
kemampuan, dan motivasi untuk belajar.
b)
Kurikulum
Kurikulum
mencakup: landasan program dan pengembangan, GBPP, dan pedoman GBPP berisi
materi atau bahan kajian yang telah disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.
c)
Guru
Guru bertugas membimbing dan mengarahkan
cara belajar siswa agar mencapai hasil optimal.
d)
Metode
Penggunaan
metode yang tepat akan turut menentukan efektifitas dan efisiensi proses
belajar mengajar.
e)
Sarana-prasarana
Yang dimaksud sarana-prasarana antara lain
buku pelajaran, alat pelajaran, alat praktek, ruang belajar, laboratorium, dan
perpustakaan.
f)
Lingkungan
Lingkungan
yang mencakup lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan juga lingkungan alam
merupakan sumber belajar.
Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika di
atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang
dicapai oleh siswa setelah melalui serangkaian kegiatan pembelajaran
matematika.
B.
Penelitian Yang Relevan
Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas
pembelajaran matematika. Diantara penelitian pembelajaran matematika tersebut
adalah:
Penelitian Anggoro (2000) dalam skripsinya berjudul “
Meningkatkan Keberanian Bertanya Siswa Kelas II Pada Kegiatan Belajar Mengajar
di SMU II Surakarta”. Dari penilain tersebut disimpulkan:
a. Upaya meningkatkan rasa minder atau fobia matematika
yang dapat menghambat pada keberanian bertanya siswa dapat diantisipsai
melalui:
1) Penciptaan hubungan baik dengan siswa yang baik.
2) Pembelajaran yang efektif.
b. Guru berperan dalam mengatasi fobia matematika
memotivikasi siswa untuk berprestasi dalam matematika. Untuk itu guru harus
merangsang siswa agar aktif bertanya. Dimana tujuan mengajukan pertanyaan
antara lain :
1)
Mendorong
siswa untuk berfikir.
2)
Menarik
perhatian siswa.
3)
Memeriksa
tanggapan siswa.
4)
Mengarahkan
pelatihan siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Sucipto (2003)
menunjukan bahwa dengan menggunakan model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal
Teaching) maka kemampuan menyelesaikan soal PR matematika yang dialami siswa kelas IIB MTS
Muhammadyah 2 Patean dapat ditingkatkan dan prestasi siswa dapat
ditumbuhkembangkan dengan ketuntasan kelas menacapi 87,5% dan cara penyajiannya
dilakukan oleh siswa sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Waluyono (2003)
menyebutkan bahwa penelitian tindakan kelas dengan pembelajaran menggunakan
Model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal
Teaching), Kemampuan siswa dalam belajar mandiri ditingkatkan dan
hasil belajar siswa juga meningkat.
Dari penelitian-penelitian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan dari setiap penelitian yaitu: Penelitian yang dilakukan oleh Anggoro
mengkaji tentang keberanian
bertanya siswa untuk meningkatkan aktivitas
siswa dalam belajar matematika, penelitian Sucipto mengkaji
tentang pengaruh penggunaan model
Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) dan dampaknya prestasi siswa
dapat ditumbuhkembangkan dan dan cara penyajiannya dilakukan oleh siswa sendiri
, penelitian Waluyono mengkaji tentang pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal
Teaching) dan dampaknya kemampuan siswa dalam belajar mandiri
ditingkatkan dan hasil belajar siswa juga meningkat.
Dari penelitian diatas menunjukkan bahwa metode dalam
proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa,
sedangkan metode yang sesuai dapat membantu siswa untuk mencapai keberhasilan
belajarnya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk lebih mengembangkan
penelitian-penelitian yang telah ada maka penulis merasa perlu untuk mengadakan
penelitian yang lebih menekankan pada pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching untuk meningkatkan aktivitas
siswa kelas VII SMP N 1
Sawit.
C.
Kerangka
Pemikiran
Matematika
merupakan pelajaran yang diamggap paling sulit, menakutkan dan membosankan.
Melihat kenyataan seperi itu menjadi tanggung jawab bersama untuk menepis semua
anggapan negatif tentang pelajaran matematika. Selain itu guru guru dalam
pembelajaran matematika banyak mengalami kesulitan, salah satu kesulitan yang
dihadapi guru dalam pembelajran matematika adalah sulit dalam mengaktifkan
siswa dalam proses pembelajaran.
Selama ini yang
nampak dalam pembelajaran hanya guru yang terlibat aktif sedangkan siswa
cenderung pasif. Sehingga prestasi belajar siswa masih kurang. Padahal untuk
mempelajari matematika bukan hanya peran guru yang dibutuhkan tetapi aktivitas
siswa sangat mendukung tercapainya pembelajaran yang optimal dan meningkatkan
prestasi belajar.
Tindakan kelas
yang dilaksanakan berupa pengajaran di kelas secara sistematis dengan tindakan pengelolaan kelas melalui
strategi, pendekatan, metode dan teknik pengajaran yang tepat dengan penerapan
kondisional yang mengacu pada perencanaan tindakan yang telah tersusun
sebelumnya. Dan teknik pengajaran yang digunakan adalah melalui pendekatan Reciprocal
Teaching, karena melalui pendekatan Reciprocal
Teaching diharapkan siswa akan lebih aktif dalam proses
belajar mengajar. Dalam penelitian peningkatan aktivitas
siswa dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching, peneliti akan : 1. melatih siswa belajar
mandiri, sehingga kemampuan siswa dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan; 2. melatih siswa untuk menjelaskan kembali
materi yang dipelajari kepada pihak lain.; 3. orientasi pembelajaran adalah
investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.; 4.
mempertinggi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
Dalam sekali tindakan biasanya
permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian sehingga siklus
tersebut harus terus berulang sampai permasalahan tersebut teratasi.
Uraian-uraian di
atas dapat digambarkan pada siklus sebagai berikut:
|
Kondisi
awal
|
|
Masalah aktivitas siswa :
Siswa yang aktif dalam menjelasakan/ menyajikan hasil temuannya didepan kelas sebanyak 6
siswa (15%).
|
|
Pembelajaran
matematika melalui pendekatan Reciprocal Teaching:
1.
Melatih
siswa belajar mandiri, sehingga kemampuan siswa dalam belajar mandiri dapat
ditingkatkan.
2.
Melatih
siswa untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain.
Dengan demikian, penerapan pembelajaran ini dapat dipakai untuk melatih
siswa tampil di depan kelas.
3.
Orientasi
pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah
pemecahan masalah. Dengan demikian, kemampuan bernalar siswa semakin
berkembang.
4.
Mempertinggi
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
|
|
Tindakan
|
|
Kondisi
Akhir
|
|
Penyelesaian
masalah aktivitas siswa meningkat: Siswa yang aktif dalam menjelasakan/menyajikan
hasil temuannya didepan kelas sebanyak 65%
|
D.
Hipotesis
Berdasarkan permasalahan –
permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka diperoleh hipotesis tindakan
yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: Jika dalam pembelajaran metematika
guru melalui pendekatan Reciprocal
Teaching maka aktivitas siswa dikelas akan meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode
penelitian adalah cara-cara atau langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti.
Metode penelitian ini lebih cenderung sebagai pertanggung jawaban mengenai
metode-metode yang dipergunakan selama penelitian berlangsung dari awal sampai
akhir.
A.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR).
Penelitian kelas merupakan kegiatan pemecahan masalah yang
dimulai dari : a) perencanaan (planning), b) pelaksanaan (action),
c) pengumpulan data (observing), d) menganalisis data atau informasi
untuk memutuskan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut (reflecting).
PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak
ukur berhasilnya (berhentinya) siklus-siklus tersebut. Dalam penelitian tindakan
kelas, peneliti melakukan sesuatu tindakan yang secara khusus diamati
terus-menerus, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya
maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat (Suharsimi Arikunto, 2002: 2).
Menurut Sugiyono (2007: 1) metode
penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti
kondisi obyek yang alami, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci,
teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data
bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari
pada generalisasi. Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara kepala
sekolah, guru tetap dan peneliti. Kegiatan perencanaan awal dimulai dari
melakukan studi pendahuluan. Pada kegiatan ini juga mendiskusikan cara
melakukan tindakan pembelajaran dan bagaimana cara melakukan pengamatannya.
Pelaksanaan tindakan penelitian adalah
guru matematika berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, melaksanakan
pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pengamatan selama tindakan
penelitian dilakukan oleh peneliti bersama guru matematika yang semula mengajar
dikelas. Pengamatan dilakukan berdasarkan pedoman observasi yang telah
disiapkan peneliti. Kejadian-kejadian penting selama proses tindakan
berlangsung yang belum termuat dalam pedoman observasi dibuat pada catatan
lapangan.
Refleksi dilaksanakan peneliti bersama
guru matematika. Kegiatan ini berdiskusi untuk memberikan makna, menerangkan
dan menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan kesimpulan
pada kegiatan refleksi ini suatu perencanaan untuk siklus berikutnya dibuat,
atau tindakan penelitian dipandang cukup.
B.
Tempat dan
Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat yang digunakan sebagai
penelitian mengenai peningkatan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika
melalui pendekatan Reciprocal
Teaching di SMP N 1 Sawit yang terletak
di Kelurahan Kateguhan,
Kecamatan Sawit,
Kabupaten Boyolali. Sekolah ini merupakan
Sekolah Menengah Pertama yang termasuk kategori “Menengah”. Bukan merupakan
Sekolah “Unggulan” dan bukan pula sekolah yang “Jelek”. Peneliti mengadakan
penelitian ini dengan pertimbangan sekolah ini belum pernah dilakukan
penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan
pada semester genap
tahun 2011, Lebih tepatnya bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2011. Adapun tahapan
pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
Bulan
|
|||||||||||||||
|
Mei
|
Juni
|
Juli
|
Agustus
|
||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Tahap Persiapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a. Pengumpulan
Data
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b. Perencanaan Tindakan
|
|
|
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Tahap Pelaksanaan Penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a. Pelaksanaan Putaran
I-III
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Tahap Penyelesaian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a. Penyusunan Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
b. Bimbingan
Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
|
|
C.
Subjek Penelitian
Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP N 1 Sawit tahun
ajaran 2010/ 2011 dengan jumlah siswa 40 siswa
yang terdiri dari 21 putra dan 19 putri. Dalam penelitian ini guru matematika kelas VII
sebagai subyek penelitian yang membantu dalam perencanaan dan pengumpulan
data. Sedangkan peneliti sebagai subyek penelitian yang melakukan tindakan
kelas. Semua siswa kelas VII SMP N 1 Sawit tahun ajaran 2010/ 2011 sebagai
subyek yang menerima tindakan.
D.
Perencanaan
Penelitian
Penelitian ini
merupakan berbasis kelas kolaboratif. Suatu penelitian yang bersifat praktis,
situasional dan konteksual berdasarkan permasalahan yang muncul dalam
kegiatan pembelajaran sehari-hari di SMP
N 1 Sawit.
Kepala sekolah, guru dan peneliti senantiasa
berupaya memperoleh hasil yang optimal
melalui cara dan prosedur yang efektif sehingga dimungkinkan adanya tindakan
yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan aktivitas siswa. Penelitian
ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar matematika
serta perolehan manfaat yang lebih baik.
Prosedur Penelitian
Tindakan Kelas ini terdiri dari siklus-siklus. Tiap-tiap siklus dilaksanakan
sesuai dengan perubahannya yang dicapai, seperti yang telah dibuat dalam
faktor-faktor yang diselidiki. Untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan
rendahnya aktivitas siswa dalam
pembelajaran matematika pada subpokok bahasan keliling dan luas segitiga di kelas VII SMP N
1 Sawit kabupaten Boyolali dilakukan observasi
terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru. Melalui
langkah-langkah tersebut akan dapat ditentukan tindakan yang tepat dalam rangka
meningkatkan kemampuan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Secara rinci prosedur
penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan dalam uraian berikut :
1.
Dialog Awal
Dialog awal dilakukan peneliti, guru
matematika dan kepala sekolah pada hari Senin
6 Juni 2011 untuk melakukan pengenalan, penyatuan
ide dan berdiskusi untuk membahas masalah yang muncul. Serta cara-cara
peningkatan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika yang terfokus pada
interaksi antara guru dan siswa. Peserta dialog juga membicarakan model dan
alternatif pembelajaran yang akan dipraktekkan dan dikembangkan. Dialog ini
nantinya akan menyepakati penanganan masalah peningkatan aktivitas siswa dalam
pembelajaran matematika melalui pendekatan
Reciprocal Teaching
pokok bahasan Keliling dan Luas Segitiga.
2.
Perencanaan Tindakan
a.
Mengidentifikasi Masalah
Peneliti merumuskan permasalahan siswa sebagai upaya
meningkatkan aktivitas siswa melalui pendekatan Reciprocal Teaching.
Tindakan yang dilakukan adalah yang
disebutkan antara lain: Diskusi dengan guru matematika kelas VII untuk membahas batasan
masalah dan juga melakukan latihan soal sebelum tindakan.
b.
Mengidentifikasi Siswa
Hal ini dilakukan
untuk mengetahui siswa yang pandai, sedang dan kurang melalui pengumpulan data.
Identifikasi ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan
aktivitas siswa dalam belajar matematika melalui pendekatan Reciprocal
Teaching. Tindakan yang ditawarkan pada
identifikasi masalah antara lain :
1)
Musyawarah
dengan guru matematika kelas VII.
2)
Mengacu
pada dokumen hasil tes pertama tentang aktivitas siswa pada saat pembelajaran matematika.
Langkah-langkah tindakannya
adalah disebutkan di bawah ini:
a)
Observasi pendahuluan
yang dilakukan peneliti pada hari Selasa
7 Juni
2011 untuk memperoleh gambaran tentang
kegiatan belajar mengajar matematika, suasana kelas, sikap siswa, dan observasi
mengajar guru termasuk metode mengajar yang digunakan. Dari observasi awal ini,
diketahui : 1) Guru yang lebih aktif sehingga aktivitas siswa terbatas pada
mendengarkan, mencatat, menjawab pertanyaan. 2) Siswa bekerja atas permintaan
guru, menurut cara yng ditentukan guru, begitu juga berfikir menurut yang
digariskan oleh guru. Sehingga proses pembelajaran tidak mendorong siswa untuk
befikir dan beraktivitas, bahkan cenderung membosankan membuat siswa pasif dan
mempertebal rasa takut siswa. 3) Guru jarang mendekati dan membimbing siswa
pada saat pembelajaran berlangsung. Hal inilah menjadi salah satu penyebab
rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika yang mengakibatkan
prestasi belajar juga tidak maksimal.
b)
Diskusi antara peneliti
dan guru kelas untuk membahas batasan masalah aktivitas yang terjadi pada kelas
VII SMP N 1 Sawit.
Biasanya muncul masalah aktivitas disebabkan karena siswa kurang dilibatkan
dalam proses pembelajaran serta siswa kurang dibiasakan untuk bersikap aktif
dan kreatif dalam belajar.
c.
Perencanaan Solusi
Masalah
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi
masalah peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika untuk dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP N 1 Sawit antara lain:
1) Model
pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran malialui pendekatan Reciprocal
Teaching. Pembelajaran Reciprocal Teaching ini merupakan salah satu model yang memiliki manfaat agar
tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik
mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain. Yang diharapkan selain tujuan
agar pembelajaran tersebut tercapai maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri
juga dapat ditingkatkan.
2) Tindakan
pembelajaran untuk memperbaiki aktivitas
siswa yaitu: a)
Siswa mempelajari materi
yang ditugaskan guru secara mandiri, selanjutnya menerangkan/ meringkas materi
tersebut, b) siswa membuat pertanyan yang berkaitan dengan materi yang
diringkasnya, pertanyan ini diharapakan mampu mengungkap penguasan atas materi
yang bersangkutan, c) siswa mampu menjelasakan/menyajikan hasil temuannya
didepan kelas, d) siswa mampu
memprediksi kemungkinan pengembangan materi yang dpelajarinya saat itu.
d.
Perencanaan Setiap
Putaran
1) Perencanaan Putaran I
Pembelajaran
dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Juni 2011 dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) selama 2 jam pelajaran (80 menit), dengan materi ajar yang disampaikan
yaitu keliling
segitiga.
2) Perencanaan Putaran II
Pembelajaran dilaksanakan hari Rabu,15 Juni 2011
dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama 2 jam pelajaran (80 menit), dengan materi ajar
yang disampaikan yaitu mencari luas segitiga.
3) Perencanaan
Putaran III
Pembelajaran
dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Juni 2011 dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) selama 2 jam pelajaran (80 menit), dengan materi ajar yang
disampaikan yaitu membahas soal-soal terkait dengan materi segitiga yang
telah dijelaskan.
3.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini dilakukan
oleh guru yang akan diobservasi. Guru menjadi mitra, karena guru berfungsi
sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan perencanaan yang telah
dibuat peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran matematika melalui
pendekatan Reciprocal
Teaching. Karena terjadi
dalam situasi nyata maka tindakan yang diambil banyak menghadapin kendala, oleh
karena itu rencana tindakan harus bersifat sementara, fleksibel dan siap diubah
sesuai dengan kondisi yang ada sebagai upaya kearah perbaikan. Pelaksanaan
tindakan dilaksanakan selama tiga kali putaran, dimulai minggu ke dua bulan Juni 2011.
Dalam pelaksanaan pengajaran dikelas
lebih mengarah pada substansi yang menjadi permasalahan pokok untuk
meningkatkan aktivitas siswa dalam memecahkan masalah matematika, memahami dan
menyelesaikan soal-soal matematika.
4.
Observasi dan
Monitoring
Monitoring yang
dilaksanakan memiliki dua fungsi pokok, yaitu: untuk mengetahui kesesuaian
pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan dan untuk mengetahui seberapa
pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung dengan harapan akan menghasilkan
perubahan yang diinginkan. Disamping itu, monitoring dan observasi digunakan
pula untuk menjaring atau menangkap data kualitatif tentang pelaksanaan
tindakan. Peneliti melakukan pengamatan di kelas untuk merekam semua peristiwa
dan kegiatan yang terjadi selama tindakan berlangsung dan ikut membantu guru
dalam proses pembelajaran. Tindakan pembelajaran selalu mengacu pada pendekatan Reciprocal
Teaching, dimana peserta didik mampu menjelaskan temuannya
kepada pihak lain, maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri juga dapat
ditingkatkan.
Observer
atau peneliti mengamati proses pembelajaran
dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran
matematika dengan melalui pendekatan
Reciprocal Teaching, baik mengenai guru, siswa, situasi kelas dan lingkungan
sekitarnya. Observasi ini dilaksanakan selama tindakan kelas diberikan. Jadi
observasi dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan 3 kali yaitu pada
tanggal 7 Juni 2011, 14 Juni 2011,
dan 21 Juni 2011.
5.
Refleksi dan Evaluasi
Evaluasi dan refleksi
dilakukan secara beruntun, data kualitatif dan kuantitatif ditangkap di dalam
evaluasi. Data kualitatif diperoleh selama observasi yaitu data tentang
peningkatan keberanian siswa dalam mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain
di depan kelas untuk materi keliling dan luas segitiga yang meliputi materi
ajar secara simple dan sistematis, yang dapat merangsang siswa dalam belajar mandiri;
berani bertanya; mendengarkan; mengungkapkan ide; mengerjakan soal-soal
latihan; antusias dalam belajar; serta memperhatikan guru. Pengamatan terhadap guru juga dilakukan selama
pembelajaran berlangsung yang meliputi kemampuan mengajar, managemen kelas,
penguasaan bahan ajar, dan penguasaan materi pelajaran.
Refleksi
memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengadakan koreksi data, mengkaji, melihat
dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak tindakan yang dikenakan terhadap
siswa. Data yang muncul di lapangan, selanjutnya dipakai sebagai dasar
melaksanakan perencanaan ulang, penyempurnaan, merevisi rancangan untuk tindakan
selanjutnya. Walaupun refleksi ini dilaksanakan pada setiap akhir putaran
penelitian, tetapi bila ada hal-hal yang mendesak dan perlu diatasi atau
ditangani segera, kegiatan refleksi dapat dilaksanakan sewaktu-waktu.
E.
Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini
diperoleh melalui wawancara, observasi, catatan lapangan dan dokumentasi yang
dilakukan oleh peneliti dan bekerja secara kolaboratif dengan guru matematika kelas VII
SMP N 1 Sawit dibantu oleh Kepala Sekolah. Data penelitian ini
bersumber dari interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran matematika kelas VII SMP N 1 Sawit dan berupa
tindakan belajar atau perilaku yang dihasilkan dari tindakan mengajar.
1.
Observasi
Observasi adalah suatu
teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung
terhadap objek yang diteliti. (Sugiyono, 2007:68). Observasi ini diarahkan
kepada tindakan guru atau siswa dalam proses pembelajaran. Observasi dilakukan
di kelas yang menjadi subjek penelitian untuk mendapatkan gambaran secara
langsung tentang kegiatan belajar siswa di kelas. Dengan observasi, dapat
diketahui kegiatan siswa dalam mempersiapkan, memperhatikan dan menanggapi
penjelasan dari guru selama proses pembelajaran berlangsung.
2.
Wawancara
Pada pelaksanaannya, peneliti mewawancarai
guru kelas VII secara bebas terpimpin mengenai hal-hal yang mendukung hasil
penelitian. Wawancara terhadap siswa dilakukan secara bebas. Hal ini
dimaksudkan agar wawancara dapat berlangsung dengan arah lebih terbuka.
Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung.
3.
Catatan
Lapangan
Catatan lapangan digunakan untuk
mencatat temuan selama pembelajaran yang diperoleh peneliti yang tidak teramati
dalam lembar observasi dan bentuk temuan ini berupa keadaan siswa dan
permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran. Peneliti dengan pedoman catatan
lapangan akan mencatat keadaan sekolah, keadaan guru, lingkungan sekolah,
murid-murid di sekolah dan semua yang berhubungan dengan penelitian di SMP N 1 Sawit.
4.
Metode
Dokumentasi
Dokumentasi
merupakan suatu metode untuk memperoleh data dengan melihat buku-buku,
arsip-arsip, atau dapat berupa buku presensi dan lainya yang berhubungan dengan
subyek penelitian. Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
berupa data sekolah dan daftar nama siswa VII kelas SMP N 1 Sawit serta foto-foto rekaman saat proses
penelitian berlangsung.
F.
Validitas Data
Untuk menjamin
pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian,
maka dipilih dan ditentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas
data yang diperolehnya. Validitas merupakan ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Dalam penelitian ini
uji validitas yang akan digunakan adalah teknik triangulasi.
Triagulasi dalam
teknik pengumpulan data ini diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang
bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data
yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi,
maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas
data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data
dan berbagai sumber data.
Macam triangulasi
adalah teknik, berarti peniliti menggunakan teknik pengumpulan data yang
berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan
observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data
yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data
dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama (Sugiyono, 2007:83).
Berdasarkan raport
peserta didik dalam kolaborasi dengan teman sejawat sebelum diadakan tindakan, siswa
yang aktif dalam menjelasakan/ menyajikan hasil temuannya didepan kelas sebanyak 6 siswa
(15%). Setelah
diadakan penelitian dan
tindakan kelas yang menerapkan pendekatan reciprocal
teaching dalam pembelajaran matematika, diharapkan siswa yang aktif dalam menjelasakan/ menyajikan
hasil temuannya didepan kelas
mengalami peningkatan.
G.
Teknik Analisis Data
Pada penelitian
tindakan kelas ini, data dianalisis sejak tindakan pembelajaran dilakukan dan
dikembangkan selama proses refleksi sampai proses penyusunan laporan. Untuk
kesinambungan dan kedalaman dalam pengajaran data dalam penelitian ini
digunakan analisis interaktif. Data yang dianalisis secara diskriptif
kualitatif dengan analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan dilakukan dalam bentuk interaktif dengan
pengumpulan data sebagai suatu proses siklus.
Analisis data adalah
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah
dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data
dilakukan dengan mengorganisasikan data, memilih mana yang akan dipelajari, dan
membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain (Sugiyono, 2007:88).
Untuk
lebih jelasnya proses analisis interaktif dapat digambarkan dalam skema sebagai
berikut:
Pengumpulan
Data Penyajian
Data
Reduksi Data Penarikan Kesimpulan
Proses
Analisis Interaktif
Reduksi data adalah
kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari
hasil catatan lapangan. Menurut Paimila (2005: 98) reduksi data dilakukan
dengan cara melakukan abstraksi yaitu membuat rangkuman inti, membuang data
yang tidak perlu, mengatur data dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga
agar tetap berada didalamnya, sehingga penarikan kesimpulan akhir dari
penelitian dapat dilakukan dengan mudah. Kegiatan ini dilakukan setiap akhir
tindakan. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif
yang disusun, diatur dan diringkas sehingga mudah dipahami, dilakukan secara
bertahap dari kesimpulan sementara kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara
diskusi bersama mitra kolaborasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar